Liputan6.com, PBB: Buta huruf dapat menghancurkan
usaha untuk memerangi sejumlah masalah sosial. Contohnya saja kemiskinan
dan masalah kesehatan, serta mengancam kestabilan sosial.
Dalam
pesan yang disampaikan Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBB, Ban Ki-Moon,
pada Hari Melek Huruf Internasional, Kamis (8/9), dia mengatakan bahwa
kegiatan dengan tema Keaksaraan dan Perdamaian tersebut mengingatkan
masyarakat bahwa sejumlah tugas penting, seperti mencegah kejahatan,
meredakan ketegangan dan mengakhiri konflik, menuntut kemampuan membaca.
"Tebusannya
sangat besar," kata Ban dalam pesan tersebut. "Buta huruf memperparah
kemiskinan, masalah kesehatan dan perampasan peluang hidup. Itu juga
melemahkan komunitas dan merusak proses demokrasi melalui tersisihnya
dan tak disertakannya masyarakat. Semuanya itu dapat menghancurkan
masyarakat," tambahnya.
"Meskipun ada kemajuan, buta huruf terus meresahkan jutaan orang, khususnya perempuan," kata Ban.
Ban
menambahkan data jumlah penderita buta huruf di dunia pada 2009
menunjukkan sebanyak 793 juta penderita buta huruf dewasa adalah
perempuan, sementara 67 juta lagi adalah anak usia sekolah dasar, dan 72
juta remaja. Dua per tiga dari jumlah orang yang buta huruf tersebut
tidak memiliki kesempatan untuk mendapat pendidikan.
"Melek huruf
dapat membuka kesempatan bagi setiap orang untuk berimajinasi dan
menciptakan masa depan yang lebih cerah. Itu juga membuka jalan bagi
keadilan, kesetaraan dan kemajuan yang lebih baik. Selain itu, melek
huruf dapat memulihkan masyarakat, memajukan proses politik dan
menyumbang kebaikan bersama," katanya.
Pada 17 November 1965,
organisasi PBB untuk pendanaan anak-anak, UNICEF, mencanangkan 8
September sebagai Hari Melek Huruf Internasional, yang bertujuan untuk
menjamin semua anak dapat membaca dan menulis.(ANT/Xinhua/MEL)



No comments:
Post a Comment